Senin, 07 Maret 2011

GERWANI, Stigma Hitam Gerakan Perempuan Indonesia


“Bu, mengapa Ibu menjadi anggota organisasi yang begitu bejat akhlaknya...? Apa Ibu juga pelacur? Kata orang-orang, semua anggota GERWANI pelacur dan perempuan jahat”. Kalimat itu diucapkan oleh seorang anak yang ibunya adalah seorang (mantan) anggota GERWANI.

Gambaran hitam tentang GERWANI itu mungkin masih melekat kuat dibenak sebagian dari kita, terutama mereka yang berusia diatas 30 tahun. Apalagi gambaran itu juga ditunjang oleh sejumlah relief di Monumen Pancasila Sakti di Lubang Buaya, yang menggambarkan para anggota GERWANI sedang menari-nari tak senonoh sambil menyiksa para Jenderal yang diculik sebelum dibunuh. Tapi, benarkah GERWANI—yang adalah perempuan Indonesia juga—bisa berperilaku sebejat dan sesadis itu?

Dalam banyak hal sejarah gerakan perempuan Indonesia tidak terlepas dari gerakan nasional. Setiap partai atau organisasi nasional berusaha membangun sayap perempuannya sendiri, baik organisasi yang berhaluan Nasionalis, Islam, maupun Kiri. Sejak paruh kedua dasawarsa 1950-an panggung politik Indonesia semakin dikuasai oleh ketegangan antara tiga golongan terkemuka: Angkatan Darat, organisasi-organisasi Islam, dan golongan komunis. Kharisma pribadi Soekarno sajalah yang menjadi faktor penengah utama yang menjaga keseimbangan yang rawan itu. Harus diakui, sebagai organisasi perempuan, GERWANI memang “lain sendiri”. Program-programnya jauh lebih progresif, karena menyangkut kehidupan kaum buruh, para petani (landreform), dan hal-hal lain yang pada masa itu tak mau disentuh oleh organisasi-organisasi perempuan lainnya, sehingga dianggap lebih ‘berbahaya’.

GERWANI (Gerakan Wanita Indonesia) adalah organisasi perempuan yang paling besar dan paling berpengaruh dalam sejarah Indonesia. GERWANI berasal dari Gerakan Wanita Sedar (GERWIS) yang didirikan pada tahun 1950. Para anggotanya ini pada umumnya berpendidikan tinggi dan berkesadaran politik. Kaum perempuan tertarik pada organisasi ini semata-mata oleh karena kegiatannya yang menyangkut kebutuhan sehari-hari mereka. Warung-warung koperasi simpan pinjam kecil-kecilan didirikan. Perempuan tani dan buruh disokong dalam sengketa mereka dengan tuan tanah atau majikan pabrik tempat mereka bekerja. Taman Kanak-kanak diselenggarakan dipasar, perkebunan, dan kampung-kampung. Dibuka pula badan-badan penyuluh perkawinan untuk membantu kaum perempuan yang menghadapi masalah perkawinan. Kursus kader-kader dibuka pada berbagai tingkat organisasi, dan dalam kursus-kursus ini digunakan buku-buku tulisan Friedrich Engels, August Babel, Clara Zetkin, dan Soekarno. Pada kesempatan ini juga diajarkan keterampilan teknis, misalnya tata buku dan manajemen. Hal penting lain yang diajarkan adalah sejarah gerakan perempuan Indonesia. Sudah sejak awalnya GERWANI sangat giat dalam membantu peningkatan kesadaran perempuan tani, bekerja sama dengan bagian perempuan BTI, membantu aksi-aksi sepihak pendudukan tanah yang dilancarkan oleh BTI, dan menuntut agar hak atas tanah juga diberikan kepada kaum perempuan. GERWANI juga melakukan kampanye pemberantasan buta huruf yang dimulai pada tahun 1955, perubahan Undang-undang Perkawinan yang lebih demokratis, menuntut hukuman yang berat untuk pelaku perkosaan dan penculikan, dan terlibat dalam demonstrasi menuntut hak-hak buruh perempuan. GERWANI menerbitkan dua (2) majalah, Api Kartini dan Berita Gerwani. Api Kartini terutama ditujukan bagi pembaca lapisan tengah yang sedang tumbuh tidak hanya memuat tulisan-tulisan tentang masak-memasak, pengasuhan anak, mode, dll, tetapi juga soal-soal yang lebih “feminis” dan “kiri” seperti kejahatan imperilaisme (Api Kartini adalah majalah pertama di Indonesia yang menunjukkan pengaruh buruk film-film Hollywood yang bermutu rendah yang saat itu banyak beredar dan baru belakangan PKI melontarkan masalah imperialisme kebudayaan Barat), poligami, dan pentingnya pendidikan bagi kaum perempuan serta masalah sekitar kaum perempuan yang bekerja. Berita Gerwani adalah majalah intern organisasi, dengan berita-berita tentang konferensi dan organisasi perempuan di negara-negara sosialis.

Semua itu dilakukan oleh perempuan Indonesia yang ingin mendidik perempuan untuk maju, yang ingin mengubah Indonesia menjadi negeri yang adil tanpa penindasan dan penghisapan atas manusia, yang memperjuangkan kepentingan rakyat miskin, yang anti-imperialisme. Mereka telah menunjukkan keberanian dalam menghadapi kesulitan, tidak sedikit dari mereka bahkan gigih membela keyakinannya sekalipun dengan tebusan nyawa.

Namun kudeta militer merubah segalanya. GERWANI dicap sebagai perkumpulan pelacur, wadah berkumpulnya perempuan kasar (jauh dari perwujudan perempuan Indonesia semestinya: lemah lembut, pendiam, penurut, sopan, ibu yang penuh kasih sayang, isteri yang setia dan jauh dari hal-hal politik) serta atheis. Kampanye menjatuhkan GERWANI menjadi histeria massa, dan orang-orang yang pernah menjadi anggotanya menghadapi bahaya dan penyingkiran di masyarakat. Berakhirnya riwayat organisasi perempuan Indonesia yang terbesar ini sungguh mendadak, cepat, dan tidak terduga. Keluh kesah apa pun yang diungkapkan sehubungan dengan situasi sosial dan ekonomi yang sulit, dan terutama mengenai bagaimana hubungannya dengan subordinasi kaum perempuan, akan dicap sebagai berpolitik. Keluh kesah demikian berimplikasi semangat Kiri, dan “Kiri” dalam hubungan dengan “kaum perempuan” akan menimbulkan berbagai kesulitan yang disangkutpautkan dengan pesta pora seks dan upacara pembunuhan. Demikianlah rezim militer menggunakan simbol-simbol tersebut untuk menciptakan pembenaran bagi kelangsungan tindakan represinya, tidak saja terhadap kaum perempuan tetapi juga terhadap golongan tertindas lainnya. Sampai sekarang!

Selamat Hari Perempuan Internasional

4 komentar:

  1. Ironis ya.. Hanya demi merebut kekuasaan, harus mengorbankan beribu2 nyawa dan masa depan orang2, dalam hal ini perempuan yang tergabung dalam Gerwani. Sungguh sebuah akal2an licik dari rezim Soeharto, dan telah tertanam lama dalam kepala kita. Shooot! :(

    Salam kenal, btw. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebuah politik kelas akan selalu mendekatkan kelas pekerja pada kekuasaan ekonomi, politik dan teori (Ideologi dan kesadaran). Salam kenal.. Gracias..:)

      Hapus
  2. Saya tahu dimna photo ini dibuat, ini di dalam LP Bukit Duri sebelm tahun 1979...

    BalasHapus